siwah.com

Category: Opinion

  • Anwar Ibrahim dan Peralihan Kekuasaan

    September sepuluh tahun lalu adalah bulan yang penuh bencana bagi Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim. Bintangnya yang tadinya gemerlap mendadak pudar dan lenyap. Pada bulan itu PM Mahathir Mohammad mencopotnya sebagai menteri keuangan dan deputi PM.

    Masih pada bulan yang sama, Anwar Ibrahim dikeluarkan dari UMNO, partai puak Melayu yang berkuasa. Saat itu posisinya sebagai wakil presiden partai. Beberapa hari kemudian pasukan elite polisi menangkap Anwar di rumahnya di Kuala Lumpur. Ia digiring seperti halnya teroris.
    (more…)

  • Kunci Kepemimpinan di Daerah

    Krisis finansial global yang dampaknya mulai terasa menguatkan wacana tentang reorientasi tata ekonomi nasional. Daerah yang secara riil merupakan tumpuan ekonomi nasional memainkan peran makin penting di masa depan.

    Keberadaan seorang pemimpin daerah yang memiliki visi ke depan dan komitmen yang jelas terhadap berbagai persoalan kian dibutuhkan. Dari sejumlah kepala daerah yang diamati Kompas berikut ini, kita bisa melihat gaya kepemimpinan dan kiat mereka menghadapi persoalan—ekonomi, sosial, politik, dan budaya—di wilayahnya. Dengan contoh Kota Solo, Kabupaten Jepara, Kota Sawahlunto, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kota Tarakan, serta Provinsi Jawa Timur dan DI Yogyakarta, kita bisa melihat perspektif persoalan di daerah lain yang beragam.
    (more…)

  • Nobel buat Seorang Teman

    Jumat, 10 Oktober 2008, Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia yang menjadi mediator damai di sejumlah belahan dunia, termasuk Aceh, dinyatakan sebagai penerima Nobel Perdamaian.

    Nobel Perdamaian, sebuah penghargaan dunia yang menjadi dambaan banyak orang. Sepekan sebelumnya, di Paris, saat saya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri penganugerahan perdamaian baginya oleh UNESCO, bersama istrinya, Ahtisaari memeluk erat saya sambil berbisik, ”Bagian dari pekerjaan saya adalah Aceh dan Indonesia.” Ia benar, sebab panitia Nobel mempertimbangkan dirinya, antara lain, karena menyelesaikan konflik Aceh yang berlangsung selama tiga dekade.
    (more…)

  • Hasan Tiro Pulang

    Sejak bom meledak di rumah Ketua Komite Peralihan Aceh sekaligus Ketua Partai Aceh (PA), Muzakkir Manaf, pada awal puasa, teror bom mulai sering terdengar di Nanggroe Aceh Darussalam.

    Perselisihan antara Partai Aceh dan Partai SIRA juga kian tidak produktif bagi perdamaian. Sebelum Lebaran, sebuah berita mengejutkan terdengar, Hasan Tiro pulang ke Aceh!
    (more…)

  • Pelajaran dari Pemilu AS

    Alangkah beruntungnya rakyat Amerika Serikat menjelang pemilu yang akan diselenggarakan bulan depan.

    Mereka menghadapi pilihan yang jelas dari dua calon yang berbeda. Antara memilih calon yang diajukan Partai Republik dan calon dari Partai Demokrat. Antara kandidat Barack Obama yang menawarkan penarikan mundur tentara AS dari Irak dalam waktu 18 bulan setelah dilantik dan John McCain yang ingin mempertahankan serdadu AS di sana selama mungkin.
    (more…)

  • Saya “Nyoblos” kalau…

    Ekonomi Amerika Serikat menjalani ekspansi terpanjang pada era Presiden Bill Clinton (1992-2000). Ia mewarisi surplus perdagangan 237 miliar dollar AS (2000) dan membuka 22 juta lowongan kerja.

    Pengangguran mencapai tingkat terendah dalam 30 tahun, dari 6,9 persen (1993) ke 4 persen (2000). Tingkat inflasi juga berada di tingkat terendah sejak era Presiden John F Kennedy, yakni rata-rata 2,5 persen.

    Pertumbuhan rata-rata 4 persen per tahun selama 116 bulan—tertinggi dalam sejarah. Jumlah orang miskin berkurang 7 juta dari 15,1 persen (1993) ke 11,8 persen (2000), pertama kalinya terjadi dalam 30 tahun.
    (more…)

  • Pergeseran Kekuatan Partai Nasionalis dan Islam, 1955-2004

    Penetrasi kekuatan Orde Baru telah mampu mengubah peta politik di luar Jawa. Setelah pemerintahan Orde Baru tumbang, warna politik nasionalis pun masih tetap kental di luar Jawa. Sementara di Jawa, komposisi nasionalis-agama cenderung kembali seperti Pemilu 1955.

    Pemilihan umum pertama yang diselenggarakan pada 29 September 1955 dan diikuti oleh sekitar 172 peserta pemilu telah memetakan untuk pertama kalinya kekuatan-kekuatan partai politik dominan di berbagai wilayah di Indonesia. Hasil pemilu yang dilaksanakan di 15 daerah pemilihan (dapil) menunjukkan cukup berimbangnya kekuatan partai-partai berbasis massa nasionalis dan komunis dengan partai-partai berakar massa Islam. Sekitar 43,71 persen pemilih memberikan suaranya untuk Masyumi, NU, Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan beberapa partai kecil lainnya. Sebaliknya, sekitar 46,86 persen pemilih lainnya memberikan suaranya untuk partai-partai yang berhaluan nasionalis seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), berhaluan komunis seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), atau berhaluan sosialis semacam Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan juga kepada partai-partai dengan akar pluralis lainnya.
    (more…)

  • Dinamika Parpol: Pemilu dan Pilkada, Seberapa Erat Berhubungan?

    Selain pemilihan umum, pemilihan kepala daerah menjadi tempat partai politik untuk berebut kekuasaan. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah banyak diyakini akan lebih memuluskan jalan menuju kemenangan dalam pemilihan umum.

    Tidak mengherankan parpol umumnya berjuang habis-habisan untuk memenangkan calonnya dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Fenomena ini, misalnya, terlihat pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, Juli lalu. Untuk mendukung kemenangan calon yang didukungnya dalam pilkada terbesar di Indonesia dari jumlah pemilih ini, yaitu 29.045.722 orang, hampir seluruh pimpinan partai politik datang untuk berkampanye.

    Bahkan, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, meski tidak ikut kampanye, menegaskan, susunan calon anggota legislatif partainya akan dievaluasi lewat Pilkada Jatim. Mereka yang sukses memenangkan calon yang diusung Partai Golkar di daerah pemilihan masing-masing akan direkomendasikan untuk dicalonkan lagi pada Pemilu 2009.
    (more…)

  • Obama, Johnson, dan Politik Ras

    Sebagai seorang liberal dan Demokrat, saya kagum sekali saat mendengarkan pidato Barack Obama saat dia menerima pencalonannya sebagai presiden Amerika Serikat dalam konvensi partai minggu lalu. Dia tekankan janji utamanya: Change we can believe in, perubahan yang bisa kita yakini.

    Namun, ia juga merinci sejumlah kebijakan khas yang akan diperjuangkan, yaitu asuransi kesehatan untuk semua, perbaikan mutu pendidikan, peningkatan pertumbuhan sekaligus pemerataan ekonomi, pengurangan ketergantungan AS pada minyak Timur Tengah, penarikan kembali tentara AS dari Irak, serta peningkatan dukungan kami kepada Pemerintah Afganistan.

    Lengkap, sempurna, sebagai langkah awal sebuah kampanye nasional. Itulah kesimpulan saya setelah menonton pidato Obama malam itu. Namun, koran pagi membawa berita lain. Ternyata saya tidak mewakili seluruh partai saya. Masih banyak aktivis, khususnya orang keturunan Afrika, yang memasalahkan pendekatan Obama.
    (more…)

  • Kekuatan Parpol pada Pemilu 2009

    Herbert Feith bisa disebut sebagai ”Bapak Studi Politik Indonesia Modern”.

    Buku klasiknya, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, menelurkan banyak konsep, dari tipe kepemimpinan administrator dan solidarity maker, ”politik aliran,” pembagian ideologi parpol pada 1950-an, sampai ”demokrasi konstitusional” (berbasis konstitusi dan konstitusionalisme). Feith juga mewariskan model kajian pemilu, Pemilihan Umum 1955 di Indonesia.

    Memperingati 10 tahun reformasi, Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The Habibie Center, dan The Herb Feith Foundation mengadakan seminar, 21-22 Mei 2008, bertema ”The Rise of Constitutional Democracy in Indonesia,” kebalikan judul buku almarhum. Ini pertanda, roh demokrasi konstitusional yang terkubur sejak tahun 1959 bangkit kembali sejak 1998.
    (more…)