siwah.com

Category: Opinion

  • Beban Transisi Demokrasi di Aceh

    Hingga akhir kampanye, hanya ada tiga partai lokal yang terlihat memanfaatkan kesempatan rapat umum dan mobilisasi massa: Partai Aceh (PA), Partai SIRA, dan Partai Rakyat Aceh (PRA).

    Sayang, dua partai lokal terbesar (PA dan SIRA) terlibat perseteruan negatif. PA dituduh menghalang-halangi kampanye SIRA. Kejadian terakhir adalah penghadangan massa SIRA oleh aktivis PA yang akan menghadiri kampanye di Lhokseumawe. Wakil Gubernur sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai SIRA Muhammad Nazar menyatakan, ada kelompok yang sedang mengkhianati perdamaian Aceh; statement yang sebenarnya ditujukan kepada kelompok yang terus mengintimidasi SIRA (Kompas, 29/3).
    (more…)

  • Kampanye Terbuka di Aceh Bukan Ukuran Kekuatan Parpol

    Sejak bergulirnya era kampanye terbuka tanggal 16 Maret 2009 sampai tulisan ini dibuat, perhelatan kampanye terbuka di berbagai Kabupaten/Kota di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam kurang menarik, lesu dan tidak bersemangat, hal ini sangat kontras dengan pertumbuhan demokrasi yang sangat cepat pasca penandatanganan MoU Helsinki. Bahkan, ikrar Pemilu damai yang digembar-gemborkan di depan Masjid Raya Baiturrahman serta dicanangkan di berbagai Kabupaten/Kota tidak diindahkan sama sekali, terbukti Brigade 8 PKS Aceh berani mengancam Partai Aceh yang diduga melakukan tindakan kriminal dengan memukul kader PKS di Lhokseumawe ataupun melakukan tindakan tidak terpuji kepada kader wanita PKS di Bireuen tanggal 16 Maret 2009 ketika konvoi bersama parpol mengawali rangkaian kampanye terbuka.
    (more…)

  • PAN dan Marketing Politik

    Zaman sudah membunuh ideologi. Partai politik bukan lagi adonan dari aspal keyakinan, pasir prinsip, batu moral dan kerikil falsafah yang akan mengantar pada tujuan kesejahteraan. Parpol kini tak lebih dari sekadar papan reklame yang menjadi penghias sepanjang jalan. Sementara jalanannya sendiri ganti dibangun dari pondasi kepentingan.

    Tak percaya? Coba apa masih laku menggelar rapat akbar partai di tengah lapangan minus musik dangdut? Apa masih jitu mengetuk rumah orang menawarkan program? Masih untung lho kalau tidak dijawab bantingan pintu. Atau coba saja tanya caleg PDIP apa ideologi partainya? Mayoritas paling hanya mampu menunjuk gambar besar Soekarno.
    (more…)

  • Pemilu Dalam Islam

    ISLAM dengan totalitas ajarannya, mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Tidak hanya sebatas mengatur ‘ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (mu’amalah), termasuk pengaturan sistem pemerintahan dan ketatanegaraan. Tujuannya mewujudkan kemaslahatan umat, tegaknya nilai-nilai keadilan di bumi. Jika nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan itu diabaikan, maka sungguh akan terjadi berbagai bentuk diskriminasi, penindasan dan kezaliman.

    Islam mengatur dan menetapkan bahwa harus ada pemimpin yang akan menyelenggarakan dan mengawasi jalannya pemerintahan negara. Harus ada lembaga yang membuat peraturan, juga harus ada lembaga yang secara khusus menegakkan supremasi hukum. Ketiga otoritas itu–dalam teori kenegaraan modern disebut saparation of power, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Begitu pun pentingnya satu pemerintahan (negara) dalam mengatur dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya, tetapi Islam tidak pernah memberikan suatu model atau bentuk dari suatu negara tersebut. Maka munculnya perbedaan di kalangan para ahli hukum dan pakar politik, adalah sesuatu yang wajar.
    (more…)

  • Jejak Getir Pemilu di Aceh

    TANGGAL 9 April 2009 mendatang, seluruh rakyat Indonesia akan menggunakan haknya mengikuti Pemilu Legislatif. Pemilu ke-10 dalam sejarah republik Indonesia, sejak Pemilu pertama tahun 1955. Bagi rakyat Aceh, Pemilu 2009 sangat bermakna, selain memilih 38 caleg dari partai nasional, dapat memilih calon legislatif (caleg) yang diusung oleh enam partai politik lokal (parlok) yang tidak ada di provinsi lain. Banyak yang memprediksi, untuk tingkat kabupaten/kota, caleg parlok akan mengalahkan partai nasional.

    Pada dimensi lain, Pemilu tahun ini merupakan Pemilu bersejarah di Aceh, pasca konflik dengan ditandatanganinya perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Semua berharap, Pemilu kali ini tidak digelar di bawah ujung bedil. Para pemilihnya benar-benar merdeka menentukan hak pilih mereka.
    (more…)

  • Gerakan Pemilih Cerdas

    PEMILIH Cerdas menjadi penyadaran, terutama bagi pemilih pemula untuk menggunakan potensi akalnya secara sadar memutuskan suatu pilihan. Ini dapat menekan kegamangan caleg mana yang pantas dipilih dari sekian ribu yang foto mereka bertebaran di seluruh penjuru mataangin Aceh, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga caleg tingkat pusat.

    Gerakan yang digagas PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menjadi penting untuk memperkuat kualitas pemilu 2009, sehingga rakyat tidak seperti membeli “kucing dalam karung”. Di sinilah perlu kecerdasan, terutama pemilih pemula di tengah isu kampanye,
    (more…)

  • Golput, dan Kampanye Retail

    SEPERTI biasa, pemilihan umum kini sudah diambang pintu. Seperti biasa pula, jamu pembangunan dan berbagai resep masa depan kini mulai ditawarkan dimana-mana.. Ada janji dan ungkapan yang jujur dan realistis, ada pandangan utopis. Tak kurang pula, ada rencana dan komitmen gombal yang juga seringkali laku dijual. Tidak ada yang salah dengan tawaran dan janji masa depan itu.K arena memang begitulah mekanisme pasar demokrasi adanya.

    Di sebalik kampanye dan keragaman visi masa depan yang ditawarkan, ada satu dosa kolektif yang seringkali dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan strategi persuasi dan kampanye untuk mendapat suara sebanyak mungkin. Kampanye, seperti biasanya, dimanapun di dunia, seringkali lebih bernuansa upaya mempengaruhi pemilih dengan segala cara, sedapatnya mematuhi ketentuan dan aturan yang berlaku. Tidak jarang ada asumsi-asusmsi yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja yang memperlakukan publik pada posisi “bodoh”, atau dapat “dibodohi”. Ada pula yang menganggap pemilih telah menderita penyakit “lupa kolektif” terhadap kejadian masa lalu yang telah dilakukan oleh partai politik ataupun individu.
    (more…)

  • Kampanye Ala Obama

    “Assalamualaikum w.w
    Kawan-kawan yang baik,
    Dengan ini saya menyampaikan bahwa saya, xxx turut serta dalam Pesta Demokrasi Pemilu 9 April 2009. Saya telah ditetapkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT). Sebagai Calon Anggota DPR Aceh, Utusan xxx, Nomor Urut x, Dapil 3 (Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya). Mohon Dukungan dengan menyampaikan kepada rekan-rekan, kerabat, famili dan seluruh warga di tiga kabupaten tersebut. Hendaknya dapat memberi suara kepada:
    xxx
    Calon Anggota DPR Aceh,
    Utusan xxx
    Nomor Urut x,
    Dapil 3 (Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya).
    Salam Mulia,
    xxx
    (more…)

  • Perempuan dan Peluang

    SATU riwayat, Tjut Nja’ Dhien mengajukan syarat ketika ia ingin dilamar Teuku Umar menjadi istrinya. Tjut Nja’ meminta untuk diizinkan berperang melawan penjajah dan membalas kematian suami pertamanya yaitu Teuku Ibrahim. Teuku Umar menyanggupi syarat itu. Singkatnya, Cut Nyak Dhien ikut terjun di medan perang bersama para pejuang lainnya. Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya Teuku Umar pun pergi lebih awal menghadap sang Khalik. Dan Tjut Nja’ Dhien pun tetap berjuang.

    Perjuan perempuan perkasa itu makin sengit dan makin lihat mengalahkan tentara Belanda. Bahkan saat matanya mulai rabun karena dimakan waktu. Semangatnya tak pernah surut. Satu citanya bagaimana mengubah nasib bangsanya, dan peluang terbuka untuk itu. Maka Tjut Nja’ tak menyia-nyiakan waktu. Hingga ia ditangkap dan dibuang ke Sumedang, dalam keadaan matanya yang buta, perempuan dari Lampadang itu masih sempat menikam seorang perwira Belanda yang ingin menyentuhnya. Dalam pembuangan, ternyata Tjut Nja’ tak berdiam diri. Ia berjuang lewat mengajarkan manusia, dengan mengajarkan mengaji pada beberapa orang di rumah pembuangan itu.
    (more…)

  • Benarkan Platfom Partai Kebutuhan Rakyat

    “Seharusnya partai politik mengkaji atau meriset kecil tentang mapping kebutuhan pemilih baru dikristalkan dalam bentuk platfom atau program. Itu baru jelas, bahwa partai politik itu memang memperjuangkan kebutuhan hak-hak dasar dari konsistuennya/pemilihnya.”

    Deg..deg…kurang lebih begitulah suara jantung para caleg partai politik menghitung hari yang kian dekat pada penentuan nasib. Perasaan bercampur-aduk antara menang dan kalah dirasakan semua caleg politik. Namun ketika saya tanyakan, hampir seluruh caleg, selalu berpikir optimis dengan satu kata “Menang”. Hal menarik tergelitik dibenak saya, aneh memang keinginan para caleg bila ingin menang seharusnya investasi sosial dan politik jauh-jauh hari dipersiapkan bukan kayak politikus karbitan (instan) yang hanya berorientasi uang dan jabatan ketimbang membela hak rakyat. Realitasnya para caleg hanya mengkampanyekan jadi dirinya saja melalui baliho, spanduk, stiker, kartu nama, dll. Seharusnya spirit mencerdaskan rakyat melalui pendidikan berpolitik diberikan. Mareka tidak mau tau dengan aturan yang mareka langgar dalam menjalankan kegiatan-nya. Sehingga apa yang mareka perbuat baik pada masa pra kampanye ataupun pada tahap kampanye tidak pernah melakukan atau memberikan pendidikan politik kepada rakyat, karena rakyat tetap pada posisi sebagai objek untuk mengantarkan mareka meraih kekuasaan dan jabatan.
    (more…)