SIARAN TELEVISI: “Jamaah Oh Jamaah…”

Ustaz M Nur Maulana (37) berdakwah dengan gaya atraktif. Sambil bicara soal surga, dia melemparkan mikrofon dari tangan kanan ke tangan kiri layaknya penyanyi rock dalam konser. Begitulah kemasan acara dakwah dalam industri televisi hiburan.

”Jamaah oh jamaah,” teriak Ustaz Nur menyapa jemaahnya dan pemirsa televisi di rumah. Jemaah pun menjawab sapaan itu dengan teriakan, ”Iyeee…!”

”Alhamdu…,” lanjut Nur sambil memainkan tangannya layaknya dirigen orkestra. Jemaah pun meneruskan kalimat Nur yang terpotong itu dengan teriakan, ”Lillah….” Demikian gaya khas Nur setiap membuka acara dakwah Islam Itu Indah dan Saatnya Kita Sahur yang tayang setiap hari di Trans TV.

Bahasa yang digunakan sederhana, bahkan kadang bahasa gaul anak muda. Di ujung acara ia mengajak jemaah dan pemirsa merenung dan berdoa dengan khidmat hingga mencucurkan air mata.

Juru dakwah yang tampil atraktif di televisi bukan hanya Nur. Di SCTV ada Ustaz Solmed yang mengasuh acara dakwah Kata Ustad Solmed. Setiap membuka acaranya, ia berteriak kepada pemirsa, ”Are you ready…?”

Jemaah menjawab dengan teriakan, ”Ready, Ustaz….” Solmed melanjutkan, ”Kata siapa…?”

”Kata Ustaz Solmed,” jawab jemaah. Sejurus kemudian, selawat dengan iringan rebana mengalun. Acara dakwah pun berlanjut hingga selesai.

Di MNC TV (dulu TPI) ada Umi Qurata’ayunin yang mengasuh acara dakwah Taman Hati. Umi kerap melantunkan lagu-lagu pop dan dangdut di sela-sela ceramah.

Tontonan

Acara dakwah di televisi belakangan ini memang kian cair. Ada yang mengemas dakwah dengan humor. Ada yang meramunya dengan dangdut seperti Taman Hati. Ada pula yang meraciknya dalam format reality show, seperti Pemilihan Dai Cilik di Antv.

”Kami memilih mengawinkan antara dakwah dan komedi,” ujar Direktur Utama Trans Corps Wishnutama, Rabu (24/8). Pertimbangannya, dakwah dalam kemasan komedi sedang digemari pemirsa televisi.

Wishnutama pun mencari beberapa calon pengisi acara dakwahnya. ”Akhirnya saya temukan sosok Ustaz M Nur di Youtube yang suka berteriak ’jamaah oh jamaah’ ketika berdakwah. Teriakan itu memang milik dia (Nur), bukan kami yang buat,” ujarnya.

Singkat cerita, Trans TV merekrut Nur dan menampilkannya. Selama Ramadhan 2011, ia juga muncul di acara Saatnya Kita Sahur bersama beberapa pelawak, seperti Olga Syahputra, Denny, Narji, dan Wendy.

Acara Islam Itu Indah mampu meraih banyak pemirsa. Wishnutama mengatakan, acara yang mulai tayang Desember 2010 itu kini termasuk lima besar acara Trans TV yang paling digemari pemirsa. Audience share-nya mencapai 15-17 persen. Artinya, acara itu menyedot 15-17 persen pemirsa dibandingkan dengan acara lain pada jam tayang sama.

Bagi Nur, keberhasilan acara itu membawa banyak berkah. ”Dulu aku harus naik gunung, jalan kaki untuk mendatangi jemaah. Sekarang, cukup muncul di televisi, jutaan orang bisa mendengarkan aku berdakwah,” kata Nur di sela-sela shooting Saatnya Kita Sahur, Rabu dini hari.

Jadwal Nur berdakwah pun sangat padat.

Hanya saja, pria asal Makassar itu tidak lagi bisa sebebas dulu. Seperti selebriti, ke mana pun ia pergi, penggemar menguntit di belakangnya. ”Aku enggak bisa lagi ke mal sebab pasti dikerubutin orang yang mau motret aku,” katanya.

Menghibur

Pengamat komunikasi dan budaya Idi Subandy berujar, munculnya berbagai acara dakwah yang cair, sarat canda tawa sekaligus air mata, di televisi tidaklah mengejutkan. Inilah yang disebut religiotainment, di mana kesadaran orang tentang hal-hal yang bersifat spiritual dipertemukan dengan kesadaran orang untuk mengonsumsi tontonan.

”Buat saya, ini sekadar fenomena dagang saja. Karena tujuannya dagang, semua aspek dakwah harus disesuaikan dengan format acara hiburan. Ustaznya harus segar, muda, modis, dan humoris,” ujar Idi.

Yasraf Amir Piliang, pemikir kebudayaan dan sosial dari Institut Teknologi Bandung, menambahkan, televisi hiburan di mana-mana cenderung menampilkan hal-hal yang ringan, banal, serba permukaan, tetapi juga menarik dan menimbulkan pesona. ”Acara dakwah pun diperlakukan seperti itu. Karena itu, dalam acara dakwah tidak penting lagi apa yang dibicarakan ustaz, yang penting bagaimana mereka tampil, berdandan, dan menghibur,” kata Yasraf.

Wishnutama mengatakan, acara dakwah di televisi tidak mungkin dalam, rinci, dan berisi. ”Acara dakwah di televisi, kan, hanya pemicu kesadaran orang tentang agama. Kalau mau belajar agama lebih rinci, ya di tempat lain,” ujar Wishnutama.

Tidak mendidik

Tayangan hiburan di televisi ini tidak luput dari pantauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Menurut MUI, sebagian program tayangan di televisi selama Ramadhan 2011, terutama komedi, dinilai kurang mendidik. Sejumlah acara yang umumnya ditampilkan saat berbuka dan sahur masih dipenuhi penghinaan, pelecehan, atau kata-kata kasar.

KPI juga mencatat adanya iklan niaga dalam siaran azan maghrib, yaitu di TV One, Trans TV, SCTV, dan Global TV. Ada juga keluhan terhadap adanya ustaz yang mencoba ikut melawak dan menyanyi.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI S Sinansari Ecip dan Wakil Ketua KPI Nina Mutmainnah Armando secara terpisah mengatakan, masih banyak acara yang lebih mementingkan unsur hiburan yang instan daripada semangat mendidik yang baik.

Program televisi yang mendapat sorotan tajam meliputi Sahurnya Opera van Java di Trans 7, Sahur Semua Sahur (RCTI), Saatnya Kita Sahur (Trans TV), Pesbuker (Pesta Buka Bareng Selebritis) (Antv), dan Nada Cinta (Indosiar). Selain itu, Tuker Hadiah Ramadhan (THR) (Antv) dan Sahur Bareng Rey.. Rey.. Reynaldi (Sabarrr) (SCTV). (IAM)

Source : Kompas.com

Leave a Reply