Dari Prahara Sampai RIP Jokowi: Mengamati Strategi Sun Tzu dalam Kampanye Prabowo dan Jokowi

Prahara dipersoalkan, demikian pula RIP dipermasalahkan. Itulah ekses kampanye hitam yang kebablasan. Mengamati strategi kampanye Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK sungguh menarik. Kedua kubu menerapkan strategi perang Sun Tzu. Tampaknya dua kubu yang bersaing saling berhadapan dalam strategi perang yang sangat intens dan terencana. Melihat peta kampanye baik di televisi maupun media sosial, tampak sekali perbedaan strategi dasar kampanye. Bagaimana sebenarnya kampanye hitam itu terjadi dan dampaknya bagi masyarakat dan kedua pesaing pasangan capres?

Perlu dicatat, bahwa kampanye hitam – tak perlu dibuktikan asalnya karena susah dibuktikan sumbernya dan waktu kampanye terbatas – yang sudah telanjur terjadi dipersepsikan sebagai aksi dan reaksi. Ini semua berawal dari bukti awal strategi menyerang dan bertahan dari dua kubu: Prabowo dan Jokowi. Rupanya kubu Prabowo menerapkan strategi perang: menyerang. Sementara kubu Jokowi menerapkan strategi bertahan dari serangan: lu jual gua beli. Bagaimana kedua strategi itu efektif mendongkrak dan menarik simpati publik dan mampu mengubah persepsi pemilih? Mari kita telaah.

Pertaruhan komunikasi politik Prabowo-Hatta yang dipimpin oleh Fadli Zon cukup fenomenal. Penggunaan media komunikasi lewat media sosial telah mengubah Prabowo – dan lawan politiknya yakni Jokowi – menjadi sesuatu yang berbeda. Kampanye adalah alat untuk mengubah persepsi orang terhadap figur yang akan diubah yakni Prabowo – dan Jokowi sebagai target antara. Maka Fadli Zon melakukan kampanye pengubahan persepsi dan pencitraan sekaligus terhadap Prabowo dan Jokowi. Dalam ilmu komunikasi massa, tindakan dan taktik kampanye seperti itu disebut taktik ‘menggunting dua lipatan’. Taknik menggunting dua lipatan ini memang sangat efektif. Bagaimana dampak kampanye menggunting dua lipatan ini bekerja?

Fadli Zon sudah empat tahun lebih mendesain kampanye model ini dengan dipimpin oleh ahli strategi kampanye cyber war Gerindra dan Prabowo Noudhy Valdryno. Strategi kampanye dengan filosofi menggunting dua lipatan menyaratkan Prabowo untuk bekerja keras. Berbagai syarat dan upaya perlu dilakukan agar tujuan tercapai.

Pertama, untuk menerapkan strategi tersebut posisi orang yang akan dipromosikan akan diubah imej, citra, dan persepsi orang – Prabowo harus tak memiliki catatan rekam jejak negatif. Jika ada satu titik negatif saja, maka model kampanye menggunting dalam lipatan akan berakibat buruk bagi pembuat strategi. Kenapa? Reaksi balasan akan sangat kuat menyerang titik lemah tersebut.

Contoh, kampanye presiden AS 2008 Barrack Obama-Joe Biden lawan John McCain-Sarah Palin – capres John McCain – yang berbau SARA hanya menghasilkan hantaman balik bagi Sarah Palin. Catatan keluarga Palin yang berantakan diungkap tanpa ampun sebagai reaksi balik kampanye negatif cenderung hitam. Kampanye yang menyebut Obama tidak lahir di Amerika Serikat dilawan dengan bukti akta lahir Obama di Hawaii.

Hasil kampanye negatif itu adalah persepsi publik terhadap Sarah Palin dan John McCain adalah ‘pembawa berita bohong’ dan ‘tak jujur’ – bukan persepsi positif, meskipun pada awalnya ‘berita Obama tak lahir di Amerika’ menyentak publik.

Kini di Indonesia, kampanye hitam yang berbau SARA tentang Jokowi seperti RIP, Jokowi Tionghoa – meskipun belum tentu yang membuat pendukung Gerindra – namun dalam ilmu psikologi massa, dapat disimpulkan secara umum pembuatnya adalah pendukung Prabowo. Ini persoalan persepsi, bukan aspek hukum. Setiap berita negatif tentang Prabowo juga dianggap dan dipersepsikan dari pendukung Jokowi. Itu yang terjadi karena ‘politik menghalalkan segala cara’.

Kampanye negatif berbau SARA yang terjadi menggambarkan adalaya rivalitas yang jomplang, yang timpang, yang sengaja akan diubah. Contoh kampanye Obama-Biden lawan McCain-Ryan pada 2012 yang hanya menyoroti kebijakan Obama Care yang dianggap negatif – karena sesungguhnya hanyalah satu-satunya titik ‘kelemahan’ Obama yang bisa diserang oleh McCain-Ryan. Hasilnya? Obama menang. Obama Care dihambat dan Amerika mengalami ‘shut down’ alias pemerintah berhenti melayani publik.

Fokus dan strategi kampanye ‘menggunting dalam lipatan’ oleh Sarah Palin dan Paul Ryan gagal total. Kenapa? Sarah Palin dan JohnMccain adalah dua kombinasi yang tak seratus persen suci dari titik hitam – yang bisa diserang balik. Demikian pula strategi menghantam Obama Care – program asuransi kesehatan nasional ala Inggris yang diterapkan di AS – oleh Paul Ryan gagal mencapai tujuan menjatuhkan Obama. Kenapa?

Karena kampanye Sarah Palin soal kelahiran Obama dibuktikan dengan akta kelahiran dari Catatan Sipil Hawaii, sedangkan serangan atas Obama Care sesungguhnya adalah pesanan perusahaan besar asuransi yang mendanai kampanye McCain. Akibatnya publik melihat baik Sarah maupun Ryan adalah pihak yang tak pantas didukung dan simpati publik justru berbalik kepada Obama-Biden.

Kedua, selain bersih, strategi kampanye ‘menggunting dua lipatan’ juga hanya akan efektif digunakan untuk orang atau organisasi yang bersih dan tak memiliki titik kelemahan berarti. Di samping itu, untuk menerapkan strategi ini harus juga diketahui reaksi balik kubu lawan – lipatan yang tak tampak. Jika gagal mengenali strategi lawan dengan baik, strategi ini akan melibas diri sendiri. Akan menggunting penerap strategi.

Contohnya. Kampanye SBY 2004 dan 2009 yang SBY relatif bersih dengan slogan kerakyatan dan kampanye ‘menggunting dua lipatan’ berhasil menyingkirkan semua pesaing. Penekanan kampanye difokuskan pada ‘kegagalan Megawati memimpin salama hampir 3 tahun sebagai presiden dan pada 2009 mengusung ‘anti korupsi’ dengan pencapaian prestasi SBY-Kalla.

Strategi SBY terbukti berhasil meskipun pada akhirnya Indonesia kehilangan 10 tahun dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di bawah kepemimpinan ‘pencitraan’ bukan ‘bekerja’.

Sementara kubu Jokowi menerapkan strategi politik yang menunggu serangan. Strategi ini bisa bermanfaat dan bisa menang jika diterapkan dalam masyarakat yang sebagian besar memiliki kecerdasan cukup. Di dalam masyarakat yang tingkat pendidikan rendah dan kebodohan masih melanda sebagian besar masyarakat, strategi menunggu dan menunggu serangan tak cukup efektif.

Contoh. Kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 yang menerapkan strategi menunggu serangan Foke-Nara dan 14 partai pengusungnya cukup efektif karena kondisi DKI yang memang cocok yakni tingkat pendidikan relatif tinggi. Sementara penduduk di Indonesia sebagian besar dipersepsikan bodoh dan tak berpendidikan oleh penerapan strategi ‘menggunting dua lipatan’ kubu Prabowo. Kubu Jokowi yang menganggap penduduk Indonesia seperti publik di DKI dengan penerapan ‘lu jual gua beli’ juga bisa salah strategi.

Bahkan di Amerika Serikat pun strategi seperti ini terkadang gagal meskipun memiliki tingkat sisi positif kampanye santun tinggi. Obama di AS hampir saja kalah ketika menerapkan strategi: lu jual gua beli. Untung pada saat-saat terakhir kampanye Joe Biden dalam debat calon wakil presiden berhasil menghantam Paul Ryan dan menaikkan rating Obama-Biden kembali.

Strategi menunggu serangan ala Jokowi-JK, yang selalu menjawab serangan kubu Prabowo, tidak akan efektif jika kubu Jokowi-JK kehabisan waktu untuk melawan kampanye hitam tersebut dari serangan kubu Prabowo.

Jadi dalam strategi kampanye menyerang ala Fadli Zon dan perancang sumber segala materi cyber war alias perang internet dan media sosial Noudhy Valdryno – ahli strategi cyber yang berjiwa muda namun kurang berpengalaman dalam psikologi komunikasi massa – melawan strategi kampanye menunggu dan menunggu Jokowi akan dibuktikan efektivitasnya. Apakah kubu Prabowo -dengan strategi menggunting dua lipatan – atau kubu Jokowi – dengan strategi menunggu serangan ‘ lu jual gua beli’ pada akhirnya akan memenangi strategi kampanye pilpres 2014? Anda dukung yang mana dalam strategi kampanye ini: menggunting dua lipatan atau lu jual gua beli?

Salam bahagia ala saya.
Ninoy N Karundeng

Source : Kompasiana.com

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply