Akbar Akui Parlok Akan Rajai Aceh

Banda Aceh | Harian Aceh. Mantan Ketua DPR yang juga Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tanjung, berpendapat, perolehan suara partai lokal (Parlok) pada Pemilu 2009 di Aceh akan lebih unggul dibanding partai nasional (Parnas), karena lebih fokus mengangkat isu-isu lokal.


Persaingan Parlok dan Parnas pada Pemilu mendatang akan ketat, tapi saya menilai suara Parlok akan lebih unggul,” katanya kepada wartawan di Banda Aceh, Senin, menanggapi keberadaan Parlok di Aceh yang juga akan ikut Pemilu 2009.

Kelebihan Parlok menghadapi Pemilu mendatang karena lebih fokus untuk mengangkat isu-isu lokal, sementara Parnas selain mengangkat isu lokal, juga menyuarakan isu-isu nasional yang diprediksi kurang menarik bagi masyarakat.

Akbar menyatakan Parnas harus pandai-pandai mengatur strategi dan langkah-langkah jitu, sehingga mampu berkompetisi pada Pemilu mendatang. Apa yang dilakukan di Aceh kini mulai diikuti provinsi lain, khususnya Pilkada gubernur/wakil gubernur (calon independen).

Dia menyatakan perpolitikan di Aceh sangat menarik untuk dicermati, karena daerah itu memiliki kekhususan yang tidak dimiliki provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, seperti calon independen dan Parlok. “Saya mendengar, Papua akan coba mengikuti Aceh untuk pembentukan partai lokal,” ujarnya.

Dikatakannya, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh juga akan bekerja ekstra, karena selain Parnas yang jumlahnya 51 partai yang lolos verifikasi, mereka juga akan mengurus Parlok yang jumlahnya 12 partai.

Jadi, bisa dibayangkan repot dan sibuknya anggota KIP Aceh untuk melakukan rekapitulasi suara apabila semua partai itu bisa ikut Pemilu. Tapi, inilah menariknya demokrasi di Indonesia, khususnya di Aceh,” katanya.

Golkar Perlu Evaluasi
Di sisi lain, Akbar Tandjung juga mengatakan bahwa pimpinan Partai Golkar perlu melakukan berbagai langkah khusus dalam menghadapi Pemilihan Umum 2009. Langkah khusus yang dimaksud antara lain melakukan evaluasi dan introspeksi atas hal-hal yang telah berlangsung selama ini sehingga mengetahui kegagalan, melakukan perbaikan organisasi agar lebih solid.

Selain itu rencana kerja dan strategi pemenangan Pemilu perlu dilakukan lebih terarah dan mantap, serta merkrut kader-kader yang lebih selektif. “Saya melihat rekrutmen kader selama ini nuansa nepotismenya lebih kuat,” katanya. Akbar memprediksi bila tak ada langkah-langkah khusus itu, perolehan suara Partai Golkar akan merosot pada Pemilu mendatang.

Ia mengaku prihatin atas berbagai kekalahan calon dari Partai Golkar dalam pemilihan kepala dan wakil kepala daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi padahal berbagai daerah di tiga pulau itu merupakan basis partai berlambang pohon beringin itu.

Ia juga mengutip hasil jajak pendapat (polling) dari sebuah lembaga survei di Jakarta yang menempatkan posisi Partai Golkar tidak berada di urutan nomor satu lagi pada Pemilu mendatang. “Indikator inilah yang saya nilai bahwa Partai Golkar akan mengalami penurunan suara pada Pemilu mendatang,” ujarnya.

Akbar mengeritik kepemimpinan di Partai Golkar karena merasa prihatin sehingga ia tergerak memberi masukan dan saran untuk melakukan perubahan dan perbaikan demi kemajuan partai. Ia mengaku tak bermaksud mengambil alih kekuasaan di Partai Golkar karena merasa sudah cukup membawa dan memimpin partai selama enam tahun di masa yang sangat sulit pada waktu kepemimpinannya.

Pada bagian lain Akbar menyatakan tidak akan membentuk partai baru sebagaimana dilakukan kader-kader Partai Golkar lainnya. “Saya tidak ada niat untuk mendirikan partai baru. Saya akan tetap menjadi kader Partai Golkar meskipun tidak menjadi pimpinan,” ujarnya.ant/mhy

Tulisan ini dikutip dari Harian Aceh Online, 3 Juni 2008

Leave a Reply