“Shutdown” Amerika: Proses Politik yang Menutup Taman Nasional dan Fasilitas Kesehatan


Pengumuman penutupan layanan di Taman Nasional Yosemite, Washington, Amerika, menyusul “shutdown” layanan pemerintah Amerika karena berlarutnya pembahasan anggaran di parlemen. Gambar diambil Selasa (1/10/2013). | SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP

WASHINGTON, KOMPAS.com – Sebagian besar layanan publik Pemerintah Amerika Serikat, berhenti, Selasa (1/10/2013), karena perdebatan tak berujung antara kubu Republik dan Demokrat. Mereka pun saling menyalahkan sebagai penyebab penutupan layanan badan federal, taman nasional, dan fasilitas di seantero negeri. Bagaimana latar, dampak, dan tarik ulurnya?

Masih tak cukup dengan berhentinya layanan pemerintah, pemimpin dari kedua kubu malah menyatakan “shutdown” layanan pemerintah yang Rabu (2/10/2013) memasuki hari kedua, bisa berlangsung berpekan-pekan. Bahkan, penghentian layanan juga dapat berlanjut bila Kongres menolak menaikkan plafon utang yang dapat diambil pemerintah. Jika pengajuan plafon utang itu ditolak, utang-utang Amerika akan gagal bayar alias default pada pertengahan Oktober 2013.

Berbicara di Gedung Putih, Presiden Barack Obama menuduh Partai Republik sebagai penyebab penghentian layanan pemerintah Federal untuk pertama kali sejak 17 tahun ini. Menurut dia, kegagalan pembahasan penambahan anggaran darurat ini merupakan bagian dari upaya tak berkesudahan kubu Republik sebagai “perang salib ideologis” untuk menghapus UU tentang jaminan kesehatan yang jamak dikenal dengan Obamacare.

Namun, tudingan itu dibantah Ketua DPR (House) John Boehner. “Presiden tidak mengatakan keseluruhan cerita,” tepis dia melalui tulisan opini yang dimuat di situs USA Today. “Faktanya adalah Demokrat Washington telah membanting pintu di pembukaan kembali pemerintah dengan menolak terlibat dalam pembicaraan bipartisan.”

Fasilitas kesehatan terkemuka pun tolak pasien…

Sekitar 800.000 karyawan – sekitar sepertiga dari tenaga kerja Federal – dipaksa keluar dari pekerjaan selama “shutdown” berlangsung. Program dan layanan pemerintah yang dinilai tak krusial, ditangguhkan. Hanya mereka yang diklasifikasikan sebagai pekerja di sektor penting, seperti pengatur lalu lintas udara, petugas patroli perbatasan, dan pemeriksa makanan, yang masih bekerja.

Di antara para pekerja yang terpaksa berhenti kerja sementara adalah para peneliti dan pekerja kesehatan di lembaga kesehatan terkemuka, National Institute of Health (NIH). Pejabat lembaga ini menyatakan tak akan ada pasien baru akan diterima, selama “shutdown” berlangsung.

Direktur NIH, Francis Collins, memperkirakan selama penghentian layanan federal berhenti, setiap pekan lembaga ini akan menolak 200 pasien, dengan 30 di antaranya adalah anak-anak, untuk terlibat studi pengobatan eksperimental. Hanya pasien yang sebelum “shutdown” sudah ada di NIH, yang masih diizinkan tinggal.

Obamacare vs Anggaran Pemerintah: Republik vs Demokrat

“Shutdown” dimulai ketika Kongres -yang terdiri atas DPR (House) dengan dominasi Partai Republik dan Senat yang didominasi Partai Demokrat- melewati tenggat waktu pembahasan anggaran, Senin (30/9/2013). Rapat itu seharusnya memutuskan soal penambahan anggaran darurat untuk membiayai anggaran pemerintah.

Pembahasan menemui jalan buntu karena kubu Republik mensyaratkan penambahan anggaran baru dapat dilakukan jika terlebih dahulu dilakukan peninjauan ulang atas UU Kesehatan yang mendasari “Obamacare”.

Pemimpin Mayoritas Senat Harry Reid mengatakan ia tidak akan bernegosiasi sepanjang Partai Republik masih mengendalikan tagihan belanja pemerintah. Senat telah empat kali menolak proposal House yang dimotori Republik, termasuk upaya awal menggembosi program jaminan kesehatan.

Sebagai jawaban atas penolakan Senat, House mengajukan rancangan UU untuk membuka kembali sebagian layanan publik seperti taman nasional Yosemite dan Yellowstone. Namun, Republik tetap mensyaratkan revisi soal perawatan kesehatan. Republik mengusulkan kucuran dana dari pajak daerah untuk layanan veteran, taman, dan sebagian fasilitas di Washington.

Senat menolak mentah-mentah usulan terbaru House itu. Menurut Demokrat, Republik tak punya hak untuk menentukan mana layanan yang akan dibuka kembali atau yang akan ditutup. Dengan penolakan Senat, suara Kongres untuk usulan yang diajukan Republik tak mendapat dukungan minimal dua pertiga suara.

Gedung Putih pun bersuara bakal memveto usulan Republik, kalaupun lolos di Kongres. Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan usulan itu sebagai “bukan pendekatan yang serius.”

Menyusul penolakan tersebut, Republik memperluas cakupan layanan yang mereka usulkan bisa dibuka kembali selama negosiasi berlanjut. NIH masuk dalam daftar layanan yang bisa dibiayai menurut Republik, setelah Demokrat mengutip dampak penutupan layanan pada para pasien.

Direktur Komunikasi Gedung Putih Jennifer Palmieri kepada MSNBC mengatakan di masa depan pemerintah terbuka terhadap revisi “Obamacare”, tetapi bukan dalam kerangka negosiasi untuk meloloskan anggaran pemerintah.

Kredibilitas pemerintah

Bursa saham di seluruh dunia bereaksi datar menyikapi perdebatan anggaran Amerika ini. Para analis berpendapat tidak akan ada dampak negatif “shutdown” terhadap ekonomi Amerika, kecuali penghentian layanan berlangsung lama.

Obamacare diluncurkan pada 2010, sebagai upaya pemberian jaminan kesehatan bagi rakyat Amerika yang jutaan di antaranya tak memiliki asuransi. Kubu Republik sejak awal menentang reformasi kesehatan ini, dan mengeluarkan julukan “Obamacare”, menyebutnya sebagai pemborosan dan pembatasan kebebasan kepemilikan asuransi kesehatan.

“Shutdown” pemerintah Amerika telah menyebabkan taman nasional, museum di Washington, dan lembaga seperti Lembaga Antariksa Amerika (NASA) maupun Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) nyaris tutup total. Kebun Binatang Nasional di Washington ditutup untuk pengunjung.

Pentagon dan asosiasi pengacara sedang berupaya mencari cara untuk memperluas kategori pegawai negeri di lembaga mereka yang tak harus dirumahkan untuk sementara. Penghentian layanan ini memunculkan kekhawatiran soal kredibilitas pemerintah di tataran internasional, sebagaimana dilontarkan Menteri Pertahanan Chuck Hagel.

“Shutdown” terakhir kali terjadi di Amerika pada 1995-1996. Di luar itu, pembahasan anggaran pada umumnya mulus-mulus saja lolos melewati pembahasan bipartisan dalam sistem parlemen Amerika. Pada “shutdown” 1995, kubu Republik mengalami kerugian besar, mengakibatkan kekalahan mereka dalam pemilu berikutnya yang menjadikan Bill Clinton dari Demokrat sebagai Presiden Amerika.

Source : Kompas.com

Leave a Reply