Hasil Survei LSI Dikecam

Jakarta, Kompas – Pengumuman hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang menyebut buruknya citra politisi muda mendapat kecaman dari politisi muda, terutama yang ada di parlemen. Mereka menganggap hasil survei tersebut tidak bisa dipercaya begitu saja.

Marwan Ja’far, Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR, di Jakarta, Senin (31/10), mengatakan, saat ini lembaga survei mulai kehilangan independensinya. ”Bahkan, sudah banyak dari lembaga survei orderan sehingga kehilangan obyektivitas dan validitasnya,” katanya.

Pendapat senada disampaikan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. ”Sekarang ini banyak sekali lembaga survei. Ada yang kredibel, ada yang hanya lucu-lucuan,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan M Romahurmuziy menilai, survei yang dipublikasikan LSI tentang persepsi buruk terhadap politisi muda sebenarnya akibat perilaku segelintir politisi yang sebenarnya tidak lagi muda.

Direktur Eksekutif Expose Communication and Media Creation M Deden Ridwan, di Jakarta, kemarin, mengatakan, tidak semua lembaga survei dapat dipercaya. Untuk itu, publik diharapkan lebih kritis dalam menerima hasil survei. ”Kita perlu mengkaji metodologi yang digunakan serta menyelidiki keterkaitan para pengelola lembaga survei tersebut dengan kubu-kubu politik tertentu. Penting sekali ditinjau, sejauh mana independensi mereka dalam melakukan survei,” ujarnya.

Bima Arya Sugiarto, Ketua Partai Amanat Nasional, melihat, sejumlah survei politik yang belakangan dipublikasikan telah menjadi alat politik daripada sarana untuk melakukan evaluasi secara komprehensif. ”Survei juga dapat untuk membunuh karakter tokoh tertentu dan memunculkan tokoh lain,” ungkap Bima, kemarin, di Jakarta.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia Andrinof Chaniago menyatakan, masyarakat tidak perlu bingung dengan sejumlah hasil survei yang mungkin berbeda karena semua bisa dijelaskan.

Ketika hasil survei LSI diumumkan, antara lain disebutkan, saat ini banyak politisi muda disebut atau menjadi tersangka dalam kasus korupsi. Kalaupun belum disebut dalam kasus korupsi, kinerja mereka dinilai buruk. Mereka adalah politisi muda yang duduk di DPR ataupun yang menjadi menteri, seperti Muhammad Nazaruddin (33), Angelina Sondakh (34), Anas Urbaningrum (42), Andi Mallarangeng (48), Muhaimin Iskandar (45), Zulkifli Hasan (49), dan Helmy Faishal (39). (NWO/IAM/INA/NTA)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply