Parpol Diawasi Rakyat

Jakarta, Kompas – Dinamika dukungan terhadap kandidat dan partai politik merupakan kabar baik bahwa demokrasi sedang bekerja. Naik-turunnya tingkat popularitas dan keterpilihan partai politik memperlihatkan bekerjanya mekanisme kontrol dari masyarakat.

Sebagaimana tecermin dalam sejumlah survei belakangan, pergeseran dukungan terhadap parpol juga sudah terlihat dalam pemilu ataupun pemilu kepala daerah. Ketika penguasa dinilai tidak memuaskan, pergeseran kepercayaan tertuju pada alternatif lain.

”Dengan keterbatasan informasi, masyarakat mampu memberikan penilaian, evaluasi terhadap kinerja parpol dan perilaku elite politik,” kata Direktur Indo Barometer M Qodari dalam diskusi di Rumah Perubahan, Jakarta, Selasa (14/2).

Pembicara lain dalam diskusi tersebut adalah Guru Besar Universitas Indonesia Iberamsjah, Ketua Partai Hanura Fuad Bawazier, dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia Ahmad Fauzi Ray Rangkuti.

Menurut Qodari, dampak lain dari kinerja parpol yang buruk adalah sikap antipartai yang menguat. Party-id, identifikasi terhadap parpol, tidak pernah tampak kuat, membuktikan masyarakat emoh terhadap parpol.

Namun, menurut Qodari, yang lebih berbahaya akibat kinerja parpol dan perilaku elite yang buruk adalah manakala dukungan terhadap demokrasi menurun. Kondisi itu merupakan ancaman terhadap munculnya kembali rezim otoriter. ”Kita akan kembali setback,” kata Qodari.

Lonceng peringatan

Bagi Ray Rangkuti, penurunan kepercayaan terhadap parpol merupakan lonceng peringatan bagi demokrasi, bukan sekadar ancaman terhadap eksistensi parpol tertentu. Pasalnya, parpol merupakan pintu penting dalam pencalonan pejabat publik.

Ancaman yang juga harus diantisipasi adalah jika masyarakat meninggalkan ruang politik dengan tidak berpartisipasi dalam pemilu, misalnya. ”Masyarakat masih melihat demokrasi itu partai politik,” kata Ray.

Iberamsjah berpendapat, ketika elite politik tidak bisa menjaga perilakunya, pada saat itulah ketidakpercayaan masyarakat menguat. Kinerja elite yang buruk menjadi sumber hujatan masyarakat. Supra-elite politik harus berani membuat perubahan radikal untuk memperbaiki tingkat kepercayaan masyarakat.

Fuad Bawazier menilai, praktik demokrasi saat ini tidak lebih baik ketimbang pada masa lalu. Demokrasi menjadi amat mahal, anggaran negara lebih banyak diserap untuk penyelenggara negara dan juga parpol. Sekalipun parpol amat bermasalah, tetapi faktanya parpol menjadi penentu banyak hal dalam praktik bernegara. (DIK)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply