Penembakan Misterius di Aceh, Soal Pilkada?

VIVAnews – Aksi penembakan brutal mewarnai pergantian tahun di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Empat orang tewas pada dua insiden yang berbeda.

Penembakan pertama, terjadi menjelang tutup tahun 2011, tepatnya pukul 20.30 WIB, Dimas alias Wagino tewas ditembak orang tak dikenal di depan tempatnya bekerja di kawasan Simpang Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Pria yang bekerja sebagai penjaga toko Istana Boneka ini tewas mengenaskan dengan peluru tertanam di kepala bagian kiri.

Menurut saksi mata, sebelum ditembak, korban sebelumnya dikejar-kejar oleh dua orang yang diduga pelaku. Mereka mengendarai sepeda motor jenis Supra X dan memakai tas pinggang. “Tiba-tiba di depan toko boneka itu, terdengar ledakan. Terdengar dua kali letusan senjata,” katanya.

Wagino yang bertubuh tambun pun roboh dengan timah panas bersarang di kepalanya. Masih menurut saksi, dua pelaku menembak korban dengan menggunakan senjata laras pendek. Hingga kini motif penembakan tersebut belum jelas. Polisi masih menyelidikinya.

Tak lama berselang, di lokasi yang berbeda, tiga pekerja penggali kabel Telkom tewas akibat diberondong peluru. Mereka tengah berada di mess pekerja Telkom di Desa Blangcot, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireun. Delapan lainnya mengalami luka-luka. Penembakan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB.

Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo, membenarkan adanya penembakan tersebut. Semua korban berasal dari Jawa. Tiga korban tewas adalah Sunyoto, 28 tahun asal Jember, Suparno (31 tahun) asal Jember, dan Daud (30 tahun) asal Banyuwangi.

Sedangkan korban yang mengalami luka berat yakni, Andri (15 tahun) asal Jember, Hasan, (35 tahun) asal Jember, Kirul (30 tahun) asal Jember, Imam, 27 tahun asal Jember, Kopral, 32 tahun asal Banyuwangi, Aan, 40 tahun asal Banyuwangi, dan Bonjol, 30 tahun asal Banyuwangi.

Gustav mengatakan, pelaku penembakan mess pekerja Telkom hanya satu orang dengan mengenakan helm. Datang dari Jalan Raya Medan Banda Aceh, tiba-tiba mendekati mess pekerja. “Dia kemudian langsung memberondong tembakan ke dalam rumah pekerja yang sedang istirahat,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Gustav, pelaku keluar rumah ke arah jalan. Diduga naik sepeda motor bersama rekannya. Lokasi penembakan berjarak 10 meter dari Jalan Raya Medan Banda Aceh, Bireun.

Warga Pendatang

Kepolisian Daerah Aceh masih mengembangkan dan mengumpulkan barang bukti terkait dua aksi penembakan brutal tersebut. Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo mengatakan, polisi masih mengumpulkan barang bukti dan memeriksa keterangan saksi-saksi.

Saat ini, polisi telah meminta keterangan 40 saksi termasuk korban yang  kondisinya sudah mulai membaik. “Semuanya kami minta keterangannya, ini sangat membantu meskipun kami belum bisa memastikan motifnya,” kata Gustav.

Dia mengatakan, aksi penembakan pekerja galian kabel Telkom di Bireun berbeda dengan kasus penembakan penjaga toko di Kawasan Ilie Ulee Kareng Banda Aceh. Sebab kata Leo, sebelum menghabisi penjaga toko dengan dua timah panas, pelaku sempat berbincang-bincang dengan korban.

“Tadi kami sudah menyelesaikan olah TKP di Ulee kareng. Tiga orang saksi sudah diperiksa. Juga ditemukan proyektil peluru di sela-sela boneka yang dipajang di toko itu,” kata Gustav Leo.

Dia tak berani mengkaitkan aksi tersebut dengan  penembakan pekerja yang terjadi di Aceh Utara 4 Desember 2011 lalu. Penembakan itu juga menewaskan tiga pekerja perusahaan kelapa sawit dengan kejadian pemberondongan pekerja penggali kabel Telkom di Bireun.

Menurutnya, meski dua peristiwa itu korbannya adalah sama-sama warga pendatang, namun belum ada benang merah di antara dua peristiwa tersebut.
 
Dalam penembakan di barak pekerja perkebunan kelapa sawit itu, korban tewas semua berasal dari luar daerah. Mereka adalah, Hery, Karno, dan Sugeng. Para korban luka diantaranya, Samin, Misman, Harapan, Erik dan Ari Fandi.

Kapolda Aceh, Irjen Polisi Iskandar Hasan menduga, kasus penembakan pekerja perkebunan dilatarbelakangi persoalan ekonomi. “Saya melihat background-nya ekonomi. Sebab banyak orang-orang yang tidak memiliki kapasitas, tidak diterima bekerja dan kemudian sakit hati. Tapi kami masih mengembangkan ini, tim dari Polda Aceh juga sudah kesana,” kata Iskandar Hasan, Senin 5 Desember 2011.

Teror Jelang Pilkada

Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Djamil, menengarai ada upaya menciptakan konflik horizontal di Nangroe Aceh Darussalam dengan melakukan penembakan terhadap orang-orang suku Jawa yang tinggal di Aceh.

“Menjelang pilkada memang situasi di Aceh semakin mencekam. Ini desebabkan karena situasi dan menurut saya ada upaya membenturkan antara Aceh dengan komunitas Jawa. Karena yang jadi sasaran kekerasan itu Jawa,” ujar Nasir dalam perbincangan telepon dengan VIVAnews.com, Minggu 1 Januari 2011.

Jadi, lanjutnya, memang ada skenario untuk menciptakan konflik horizontal antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Jawa yang ada di Aceh. “Karenanya kami berharap agar Kapolri itu memerintahkan Kapolda untuk segera menangkap pelakunya,” kata Nasir.

Apabila polisi tidak mengusut atau tidak menangkap pelaku tindak kekerasan tersebut, masyarakat akan gelisah dan semakin tidak percaya kepada polisi untuk menjadi pelindung masyarakat. Khususnya masyarakat pendatang di Aceh.

Politisi PKS ini mencermati bahwa peristiwa penembakan yang menyasar orang-orang Jawa di Aceh itu sebagai ulah pihak tertentu yang ingin membuat kondisi Aceh tidak kondusif menjelang pilkada.

“Menurut saya, dia [pelaku] mulai bergerak dari Aceh Utara langsung ke Banda Aceh, ke pusat kekuasaan. Jadi menurut saya ini sesuatu yang disengaja menjelang pilkada,” kata Nasir.

Meski begitu, Nasir tidak mau menduga siapa pelaku sebenarnya dibalik aksi tersebut. “Tapi kan ini kondisi yang sengaja diciptakan. Menjelang pilkada, membuat masyarakat menjadi takut dengan kondisi seperti ini gitu lho,” kata legislator yang terpilih dari daaerah pemilihan Nangroe Aceh Darussalam I ini.

Pilkada Aceh untuk memilih gubernur baru dijadwalkan diselenggarakan pada Februari 2012. Oleh karena itu, Nasir meminta polisi segera mengusut dan menemukan serta menangkap pelakunya agar masyarakat tidak gelisah dan pelaksanaan pilkada pun bisa berjalan dengan baik.

“Karena kalau ini dibiarkan akan menimbulkan ketidakpastian dan justru akan timbulkan konflik horizontal lagi nantinya. Jadi menurut kami ini sebenarnya tidak sepantasnya terjadi,” kata Nasir.

“Ini sesuatu yang menurut saya tidak cocok dengan Aceh yang sudah mulai damai. Jadi memang ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan chaos, sehingga situasi damai yang sudah dibangun selama ini buyar,” tambah Nasir.
Laporan: Riza Nasser

Source : Vivanews.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply