Dua Partai Politik Fenomal Nasional dan Lokal: Partai Demokrat dan Partai Aceh Jelang Pesta Demokrasi PILEG 2014 Diambang Pinto Aceh

Mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit daripada meraih kemenangan itu sendiri, didalam segala bidang mempertahankan prestasi dan predikat juara dibutuhkan konsistensi dan daya juang yang tinggi serta mental juara. Begitupula didalam bidang politik partai lokal yang saat ini mendominasi kursi di DPRA dan DPRK propinsi Aceh yaitu Partai Aceh menjelang pesta demokrasi Pileg 2014 tentu tidak mau dipencundangi oleh partai lokal lain yang pada pesta demokrasi tahun 2014 nanti hanya ada tiga partai lokal yang akan bertarung yaitu Partai Damai Aceh (PDA), serta partai pendatang baru yaitu Partai Nasional Aceh (PNA) dan Partai Aceh. Serta partai nasional yang akan bersaing diambang pinto Aceh yaitu, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai PPP, Partai PDIP, Partai Hanura, Partai PAN,Partai PKB,Partai Gerindra,Partai PBB,Partai PKS,Partai PKPI,serta Partai NASDEM.


Sangat menarik mencermati pertarungan antar partai politik di Aceh didalam pesta demokrasi Pileg 2014 disamping persaingan sesama partai lokal juga antara partai lokal dengan partai Nasional dan persaingan antar partai nasional. Tentu setiap partai yang telah mempersiapkan agenda politik serta caleg-calegnya yang akan bertarung memperebutkan kursi Legislatif DPRA Propinsi,DPRK Kabupaten/Kota dan khusus untuk kursi DPR RI partai lokal tak ikut memperebutkannya.Dari isu-isu politik nasional dan isu-isu politik lokal membuat suasana politik memanas. Pusat perhatian partai lokal masih didominasi oleh Partai Aceh sedangkan pusat perhatian partai nasional masih menjadi milik Partai Demokrat.

Dua partai ini menjadi magnet pembicaraan dan isu menarik ditengah rakyat Aceh. Partai lokal yaitu Partai Aceh yang mengandalkan kebesaran nama ACEH dan benang merah perjuangannya dan tidak bergantung kepada sosok atau tokoh partai, Hal ini merupakan kelebihan Partai Aceh yang masih memiliki dukunggan masyarakat gampong/desa yang sangat kuat, siapapun Caleg yang diusung Partai Aceh bukan masalah karena partai Aceh tidak mengandalkan kepada popularitas Caleg akan tetapi kepada nama besar partai.

Hal ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengan salah satu partai nasional yaitu Partai Demokrat yang masih bergantung kepada sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Kedua partai inilah yang akan menjadi magnet politik di tanah Serambi Mekkah. Partai Aceh yang akan mempertahankan dominasinya ditataran propinsi dan kabupaten/kota serta Partai Demokrat yang akan mempertahankan dominasi kursi DPRRI dipropinsi Aceh. Mengapa mesti Partai Aceh dan Partai Demokrat akan bisa mempetahankan dominasinya dipesta demokrasi Pileg 2014 di Propinsi Aceh, apakah partai –partai lain belum mampu mengeser posisi kedua partai ini !? Alasan untuk Partai Aceh akan mempertahankan dominasinya didalam merebut simpati rakyat Aceh adalah hubungan emosional yang sangat kuat dan isu-isu lokal yang digarap oleh partai Aceh masih sangat rasional dan bisa menarik masyarakat desa / gampong, keuntungan seperti ini satu-satunya milik Partai Aceh karena Partai Aceh lahir untuk perdamaian Aceh dan setelah perjanjian MoU Helsinki, fakta ini tak akan mudah digeser oleh partai-partai lain meskipun dengan isu dan iming-iming politik yang mengiurkan. Inilah salah satu partaipolitik lokal yang tak perlu banyak biaya iklan untuk promosi caleg-calegnya karena kader-kader Partai Aceh tersebar merata di desa/gampong sebagai basis utamanya. Begitu pula unsur eksekutif kepala daerah dari Gubernur dan Bupati/Walikota yang didominasi oleh kader-kader Partai Aceh ini juga merupakan keuntungan besar didalam pemilu Legislatif 2014 nanti bagi Partai Aceh.

Bagaimana dengan posisi Partai Demokrat dan alasan utama yang masih membuat Partai Demokrat mempertahankan dominasinya adalah pada sosok figure presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga sebagai Ketua umum Partai Demokrat, figure sentral yang menjadi daya tarik partai Demokrat ini masih sangat dipercaya masyarakat Aceh, karena perhatian SBY terhadap Aceh baik sikap dan kebijakan politiknya belum menemui suatu kendala yang berarti dengan rakyat Aceh. Hubungan Rakyat Aceh dengan Susilo Bambang Yudhoyono baik sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai ketua umum Partai Demokrat maupun secara pribadi masih sangat positif dan hubungan emosional ini tentunya juga tidak akan mudah digoyahkan oleh unsur-unsur lain yang akan merebut simpati rakyat Aceh. Meskipun dinamika politik selalu berubah setiap waktu baik dipusaran nasional dan lokal akan tetapi isu-isu sentral reformasi seperti pemberantasan Kolusi,Korupsi dan Nepotisme dan kemiskinan merupakan bahan empuk untuk jorgan-jorgan politik, dan masyarakat Aceh sampai saat ini masih melihat kinerja pemerintahan SBY dan Partai Demokrat masih positif walaupun belum mencapai titik prestasi yang tinggi tapi masih sangat layak untuk didukung dan diapreasiasi.

Sebagai partai yang lahir setelah reformasi Partai Demokrat masih menjadi reprentasi partai politik ditanah air dan khusunya di Propinsi Aceh. Meskipun isu seputaran presiden SBY yang tidak akan bisa maju lagi sebagai calon presiden yang akan datang akan tetapi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat telah bisa menepis isu-isu negative seputar Partai Demokrat., karena Susilo Bambang Yuhoyono identic dengan Partai Demokrat dengan posisi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dengan sendirinya telah menjadi terang benderang. Karena titik lemah selama ini adalah pembenturan SBY sebagai presiden dengan Partai Demokrat, dengan sosok presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang masih bersih memimpin pemerintahan Republik ini automatis Partai Demokrat akan ikut terangkat popularitasnya setelah isu Anas Urbaningrum dan Hambalang.

Partai Aceh yang merupakan partai lokal yang pertama ditanah air yang sangat fenomenal meraih kemenangan dipemilu legislative 2009 yang lalu akan mempertahankan eksistensinya dalam persaingan politik diambang pinto Aceh, begitupula Partai Demokrat sebagai partai Nasional yang sangat fenomenal merebut kemenangan dikursi DPRRI sekaligus kursi Presiden Republik Indonesia tentunya tidak akan mudah digoyahkan didalam mempertahankan eksistensinya dipusaran Politik Nasional maupun dipropinsi Aceh, karena terlepas suka atau tidak suka kedua partai ni memang sangat Fenomenal dijagat politik tanah air.

Meskipun kedua partai Fenomenal ini tengah diterpa badai masalah kadernya yang terjerat pidana korupsi dan berita-berita yang negative dimedia massa, namun kedua partai fenomenal ini dapat memberikan jawaban dan pernyataan politik yang bisa diterima oleh kadernya dan masyarakat. Badai Partai Demokrat yang telah mereda sejak ketua umumnya dipegang oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Badai Partai Aceh yang dituduh melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap lawan politik dan masyarakat yang melibatkan kadernya telah dibantah oleh Ketua umum Partai Aceh Muzakir Manaf, pernyataan Muzakir Manaf bahwa Partai Aceh tidak melakukan atau menyuruh intimidasi dan kekerasan baik kepada lawan politik ataupun masyarakat, bila hal itu terjadi dan melibatkan kader Partai Aceh silahkan penegak hukum mengusutnya, karena masalah pribadi jangan dikaitkan dengan partai meskipun yang melakukan tindak pidana adalah kader Partai Aceh silahkan Polisi bertindak tegas. Muzakir Manaf atau yang sering disapa Mualem ini tidak akan pernah mentolerir tindakan yang melawan hukum Partai Aceh lahir untuk perdamaian Aceh jika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan Partai Aceh itu hal biasa didalam dunia politik,rakyat Aceh jangan terpancing dengan isu-isu yang mengadu domba dan memecah belah persaudaraan kita, pernyataan mualem ini yang juga sebagai Wakil Gubernur Aceh telah menepis isu-isu negative terhadap Partai Aceh.

Menjelang pesta demokrasi Pileg 2014 nampaknya Partai Aceh telah bisa menkonsolidasi kekuatan politiknya untuk bertarung nanti, meskipun ada partai lokal pendatang baru yaitu Partai Nasional Aceh (PNA) yang didirikan oleh mantan gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan didalam kepengurusannya juga banyak melibatkan mantan-mantan panglima muda dan panglima sagoe eks Gerakan Aceh Merdeka(GAM) termasuk mantan juru bicara GAM Sofyan Daud, yang dipakai sebagai ketua pemenangan Partai Nasional Aceh di Pileg 2014.

Apakah kehadiran Partai Nasional Aceh sanggup bersanding dengan Partai Aceh untuk saling membagi kursi kekuasaan dalam persaingan politik diambang Pinto Aceh. Kehadiran Partai Nasional Aceh cukup memberi warna politik tersendiri dibumi Iskandar Muda terlepas dari kepentingan pribadi, seperti kehadiran Partai Nasional Demokrat (NASDEM) dikancah politik nasional beitupula halnya Partai Nasional Aceh yang hadir dalam persaingan politik lokal diambang Pinto Aceh yang kehadirannya cukup menyentak jagad politik akan tetapi sebagai pendatang baru mendapatkan simpati dan bisa merebut kursi saja adalah target yang sangat realistis untuk tahap petama kehadirannya, kecuali terjadi fenomenal maka kedua partai tersebut Nasional Demokrat (NASDEM) dan Partai Nasional Aceh (PNA) dapat meraih kemenangan dipesta demokrasi Pileg 2014 dalam persaingan politik diambang Pinto Aceh.

Sejujurnya kita berharap agar proses demokrasi ditanah air dapat berjalan jujur dan adil tidak gelap mata atau semata-mata hanya untuk mencari kemenangan dan kekuasaan karena semua partai politik berkomitmen membangun dan mensejahterakan rakyat, bagaimana akan bisa berkomitmen seperti itu bila partai politik sebagai cermin politik bersikap dan bertindak curang, berkelahi sesama partai politik sungguh sangat memalukan dan memilukan. Semoga pesta demokrasi Pileg 2014 ditanah air dapat berlangsung aman dan damai khususnya Aceh yang pesertanya ada 3 (tiga) partai lokal jangan sampai bertengkar dan melupakan pesaudaraan karena partai politik dan kekuasaan mari kita membangun Aceh ,baik yang berpartai atau yang tidak punya partai didalam aman dan damai menuju ambang Pinto Aceh yang darussalam

Source : Kompasiana.com

Leave a Reply