Akrobatik Golkar Aceh di Pemilu 2014

Aryos Nivada

Satu tahun lagi seluruh partai nasional mampu lokal mempersiapkan diri sebelum menuju pemilu 2014, jikalau hitung tahun di 2013. Menjadi pemenang sebagai target politik meraih kekuasaan di ranah legislatif. Salah satu partai yang tertarik dianalisis yakni Partai Golongan Karya (Golkar).

Ketika mengetahui rekam jejak di pentas perpolitikan sudah malang melintang, bahkan kepiawaian merajut kekuasaan hingga sampai saat ini masih diperhitungkan lawan politiknya. Bisa dibilang Golkar di atas rata-rata partai lain dari segi politisi, manajemen kepartaiannya, strategi politiknya, kalkulasi kekuatan, dll.

Bahkan hasil diskusi intelektual di Yogyakarta di warung kopi pada 2 Juli lalu, mengatakan Golkar ini induk yang melahirkan partai-partai di Indonesia, maksudnya banyak politikus jebolan (alumi) Golkar membuat partai sendiri.

Di sinilah letak kematangan politik yang turut berkontribusi mengembangkan dinamika politik di Indonesia. Bukan hanya karena kematangan tadi yang membuat heran bagi lawan partai lain terhadap Golkar, namun juga karena sangat jago bermain akrobatik politik.

Nah, selanjutnya isi di dalam tulisan ini mengkaji dari dua hal yaitu pertama manajemen kepartaiannya dan kedua strategi politik. Tentunya dikorelasikan dalam konteks lokal Aceh mempersiapkan pemilu 2014.

Metode analisis berpatokan kepada inventarisasi data media, pengamatan saya selaku penulis, dan wawancara. Batasan tahun yang dijadikan sumber data tahun 2006 – 2012. Mengapa? Dikarenakan akan terkait juga kekuatan Golkar meraih kekuasaan di ranah eksekutif dan legislatif.

Manajemen Kepartaian Golkar Aceh
Krisis multidemensi akibat dampak kekalahan pada pilkada 2006 dan pemilu 2009 membuat Golkar Provinsi Aceh melakukan terus pembenahan melalui manajemen kepartaiannya.

Sebelum mengulas secara detail perubahan dalam manajemen kepartainnya, saya mengajak terlebih dahulu menjelaskan fakta sejarah. Nantinya fakta ini dijadikan rujukan bagi internal Golkar melakukan pembenahan secara kepartaian salah satunya melalui manajemen kepartaian.

Berdasarkan catatan data Komisi Independent Pemilihan Provinsi Aceh keberhasilan Golkar menang pada pemilihan kepala daerah tahun 2006 hanya berada di level kabupaten/kota, itu pun tidak mayoritas hanya minoritas saja. Ditunjukan di Bener Meriah, Nagan Raya, Aceh Tengah, Singkil kader Golkar yang menang.

Kembali lagi Golkar Aceh menelan pil pahit, ketika pada pemilu 2009 tidak juga menjadi pemenang mayoritas. Hanya memperoleh delapan kursi di tingkat provinsi.

Berangkat dari fakta itulah membuat Golkar Aceh melakukan upaya pembenahan manajemen kepartaiannya. Apa saja manajemen kepartaian yang lakukan pembenahan menghadapi pemilu 2014? Di sinilah baru dikupas habis-habisan oleh saya.

Proses manajemen kepartaian yang dibenahi mulai perihal masalah kaderisasi. Kita ketahui hampir banyak alumi Golkar Aceh merapat ke partai nasional maupun lokal. Dibuktikan mulai kekalahan pada pemilu 2009, Golkar Aceh melakukan perekrutan kader baru yang berpotensi membesarkan partai Golkar.

Mekanisme seleksi pun dilakukan sangat ketat. Hasilnya kader baru ini dilakukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan kepemimpinan, pendidikan politik, penataan struktur, dll. Untuk itu Golkar Aceh membentuk lembaga kaderisasi di bawah naungan partai.

Membangun manajemen komunikasi politik yang andal di kalangan politik partai beringin ini. Tujuan utamanya makin mengasah cara berkomunikasi lintas aktor politik dan komponen masyarakat sipil di Aceh. Terbukti lebih lihai Golkar Aceh menjalankan strategi politik melalui komunikasi politik yang dibangunnya.

Berkuat manajemen konsolidasi baik di internal dan eksternal, hal ini makin membuat Golkar Aceh sangat inklusif, walaupun sudah inklusif awalnya. Bermodal pengalaman dan keseriusan mampu merampungkan manajemen konsolidasi untuk kepentingan pemilu 2014 sebentar lagi datang.

Dengan kekuatan manajemen konsolidasi membawa dampak positif yaitu Golkar Aceh mampu melakukan pengendalian konflik sesama kader. Bilamana dibandingkan dengan partai lain yang ketika terjadinya konflik sesama kader publik mengetahuinya. Bedanya di sinilah, kalaupun kader Golkar Aceh berkonflik satu sama lain, tetapi mampu diredam sehingga publik dan konsistuennya tidak mengetahui. Namun tetap diselesaikan melalui mekanisme kepartaian.

Strategi 2014
Mari kita membedah strategi yang dilakukan Partai Golkar Aceh memenangkan pemilu 2014. Berkaca dari kekalahan pada pilkada 2006 dan pemilu 2009. Makin termotivasi bagi Golkar menunjukan eksistensinya kembali di percaturan politik Aceh. Memperkuat manajemen kepartaian bagian dari strategi Golkar mempersiapkan pemilu 2014. Bisa dibilang kebangkitan Golkar dengan semangat barunya.

Strategi membangun komunikasi politik dengan kekuatan mayoritas yakni Partai Aceh terlihat jelas di publik, dibuktikan Golkar dengan tergabung dalam Forum Lintas Partai Politik Aceh (FLP2A) yang mendukung penundaan pilkada 2012.

Selanjutnya melakukan voting bersama di parlemen menyingkapi posisi legislatif terhadap situasional pilkada 2012 di Aceh. Strategi Golkar makin diperhitungkan, ketika Golkar pun turut serta berada di perahu politik Partai Aceh. Tujuan memenangkan Zikir pada di pilkada 2012.

Di sisi lain strategi politik Golkar masih kuat meraih kekuasaan dibuktikan memenangkan kadernya pada pilkada 2012 di Nagan Raya, Meulaboh, Aceh Tengah, Singkil, Gayo Luwes, dan Aceh Tenggara. Jika merujuk pada data tersebut, Golkar Aceh kuat di wilayah pantai barat selatan, tengah, dan tenggara dengan meraih kekuasaan di eksekutif. Dengan demikian pemilu 2014 potensi wilayah-wilayah tadi mampu berkontribusi mendukung kemenangan Golkar di parlemen Aceh.

Prediksi saya, strategi di pemilu 2014 Golkar akan coba meraih dukungan konsistuen di wilayah pesisir timur yang jumlah penduduknya sangat banyak dibandingkan dengan pantai barat selatan, tengah, dan tenggara.

Kembali mengulas dukungan yang diberikan Golkar kepada Partai Aceh pada pilkada 2012 bagian dari strategi pada pemilu 2014. Tentunya secara logika politik akan berdampak kepada pendistribusian kadernya ke tingkat pusat. Maksudnya ruang lingkup kekuasaan Partai Aceh tidak sampai pada level DPR RI.

Berkaitan daripada itu partai ini membutuhkan afiliasi politik dengan partai nasional, salah satunya Golkar yang berpotensi besar diberikan dukungan politik dari Partai Aceh guna mengantar kader Golkar ke Gedung DPR RI Senayan.

Dari segi tawaran meraih simpatik dan dukungan konsistuen atau pemilih, strategi Golkar Aceh membuat program “ayo bangkit”. Program ini akan memfokuskan kepada kemajuan di sektor perekonomian berbasiskan usaha mikro (kecil). Termasuk juga melatih penerima manfaat atas program ini. Ini berpotensi memberikan dukungan secara politik kepada Golkar Aceh walaupun dibungkus dengan urusan pemberian kesejahteraan.

Menariknya lagi strategi Golkar Aceh membuat Posko Aspirasi menjadi bagian terobosan yang menyerap aspirasi konsistuennya di Aceh. Tindakan lain sebagai bagian dari strategi Golkar Aceh yaitu menyelesaikan urusan pembangunan jalan pantai barat selatan yang berdampak kepada perolehan suara dukungan dari masyarakat di kabupaten/kota di sekitar pantai barat selatan.

Kelemahan Golkar Aceh
Banyak hal yang harus diperbaiki Golkar Aceh, karena hasil identifikasi Golkar Aceh menunjukkan kelemahan dan kekurangan. Kurangnya program-program yang berbasiskan isu lokal digalakkan, walaupun gerakan pemberdayaan perekonomian rakyat ada dilakukan. Tetapi bisa dibilang relatif sedikit difokuskan partai beringin ini.

Belum lagi Golkar masih lemah meraih simpatik dan dukungan politik di wilayah pesisir timur, karenanya perlu disusun sebuah strategi baru yang mampu mengambil beberapa wilayah di pesisir timur untuk melebarkan sayap kekuasaannya. Golkar Aceh juga terlihatkurang mampu mengambil keputusan atau kebijakan. Ini juga karena posisi Golkar Aceh tidak mendominasi bilamana dibandingkan dengan partai lokal yakni Partai Aceh.

Kelemahan lainnya yakni Golkar Aceh kurang mampu menjaga warisan pada masa orde baru berupa jaringan massa dan organisasi masyarakat semestinya dapat kembali dipelihara. Hal ini terlihat ketika banyak wilayah yang dimenangkan Golkar Aceh pada masa orba diambil ahli oleh partai politik lain.

Catatan lainnya dari kelemahan Golkar Aceh yang saya amati, yaitu Posko Aspirasi tidak dimaksimalkan secara signifikan. Jangan sampai hanya sebagai pencitraan dari Partai Golkar saja di mata rakyat Aceh bahwa ada kepedulian terhadap aspirasi mereka. Padahal itu langkah maju dibandingkan partai lainnya.

Terakhir dari kelemahan yang saya amati, ketika Golkar Aceh kurang mampu memfasilitasi kepentingan lokal di Aceh dalam hal kewenangan berdasarkan amanah Undang-Undang Pemerintah Aceh. Ditunjukkan kurangnya kader Golkar di Aceh melakukan komunikasi politik kepada pemerintah pusat bagian dari upaya merealisasikan kewenangan yang terdapat di UUPA.

Sepengetahuan saya di DPR RI Ketua Pemantauan Otsus Aceh dan Papua, seharusnya perwakilan kader Golkar Aceh di DPR RI mampu memberikan masukan dan mendorong perhatian lebih terhadap Aceh.

Sebagai penutup, intinya saya ingin mengatakan, jika Golkar ini mengembalikan kejayaannya kembali buatlah kebijakan yang pro kepada masyarakat Aceh. Lakukan komunikasi dengan pimpinan pusat agar diberikan kewenangan lebih di level provinsi untuk mengurus kepentingan masyarakat Aceh.

Mari kita lihat kemampuan Golkar Aceh pada pemilu 2014. Kembali kalah atau belajar dari pengalaman sekaligus menjadi pembelajaran guna meraih kemenangan pada pemilu 2014.

Jika kader Golkar sibuk dengan mengejar urusan pribadinya untuk memperkaya diri bukan bekerja melayani rakyat, hasilnya sudah bisa dipastikan Golkar tidak akan mendapatkan tempat dihati rakyat Aceh. Bila sebaliknya maka Golkar bisa semakin besar ke depannya.

Source : Beritasatu.com

Leave a Reply