Konflik Menggerus Performa Partai

Litbang Kompas

Konflik internal Partai Golkar yang sudah berlangsung 1,5 tahun terakhir memengaruhi penilaian publik pada partai berlambang beringin ini. Publik meragukan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) akan mengakhiri dinamika partai akibat konflik. Keraguan ini tidak lepas dari performa partai yang tergerus akibat konflik berkepanjangan.

Jajak pendapat Kompas merekam pendapat separuh responden (50,4 persen) yang tidak yakin Munaslub Golkar yang digelar 14-17 Mei ini akan mengakhiri konflik. Sementara sepertiga responden lainnya menyatakan sebaliknya. Penilaian itu tak dapat dilepaskan dari pandangan publik yang melihat konflik partai sebagai persoalan serius yang tengah dihadapi Golkar. Apalagi kemudian muncul sejumlah isu seperti sumbangan Rp 1 miliar dalam pencalonan ketua umum serta saling klaim dukungan pemerintah. Keduanya mewarnai persiapan Munaslub.

Munaslub disepakati sebagai solusi untuk mengakhiri dualisme kepengurusan partai pasca Pemilu 2014. Sepanjang konflik, Golkar diwarnai dengan tarik menarik antardua kubu dan saling gugat di pengadilan. Akhirnya pemerintah memutuskan mengembalikan kepengurusan Golkar hasil Munas Riau 2009 dengan memperpanjang kepengurusannya selama enam bulan untuk menggelar Munaslub.

Keraguan akan Munaslub yang mampu mengakhiri konflik partai juga tidak terlepas dari penilaian publik pada kinerja Partai Golkar. Sebanyak 68 persen responden secara umum mengaku tidak puas dengan kinerja partai ini. Ketidakpuasan itu juga terekam dari sejumlah fungsi partai yang dipandang publik belum dijalankan maksimal. Penilaian ini pun pada akhirnya juga diikuti oleh tergerusnya kepercayaan publik pada Golkar. Setidaknya hal ini bisa merujuk hasil survei tatap muka triwulanan yang dilakukan Litbang Kompas. Tingkat elektabilitas Partai Golkar cenderung menurun jika dibandingkan dengan perolehan suaranya di Pemilu 2014.

Namun, bukan Golkar namanya jika tak mampu bangkit dari ujian politik. Setidaknya rekam jejak partai ini cukup menjadi bekal politik. Sudah setengah abad lebih partai ini berperan dalam panggung politik nasional. Sebagai partai besar, partai ini pernah menjadi the rulling party di era Orde Baru. Golkar lantas melakukan transformasi di awal reformasi dengan paradigma baru dan berhasil memenangi Pemilu 2004 serta bertahan menjadi partai besar hingga saat ini.

Golkar harus mampu memaksimalkan kekuatannya dan meminimalisasi kelemahannya. Dari pandangan publik jajak pendapat, kekuatan Golkar ada pada pengalaman berpolitik dan jaringan yang mengakar di daerah. Sementara kelemahannya, masih melekat dalam diri partai itu adalah pragmatisme politik dan praktik politik transaksional. Munaslub akan menjadi pintu untuk membuktikan kepada publik, apakah Golkar mampu keluar dari sorotan publik itu.
(YOHAN WAHYU/LITBANG KOMPAS)

Source : Kompas.com

Leave a Reply