LSI: Popularitas Partai dan Capres Tokoh Islam Makin Suram

Jakarta – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis survei mengenai kondisi terkini serta prediksi masa depan partai dan tokoh Islam di Indonesia. Hasilnya, popularitas partai dan tokoh Islam di kancah perpolitikan nasional kian suram.

“Partai Islam hanya akan jadi komplementer di 2014, jadi pelengkap saja,” kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, dalam acara rilis hasil survei ‘Makin Suramnya Partai dan Capres Islam di Pemilu 2014’ di kantor LSI di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (14/10/2012).
Adjie mengatakan popularitas semua partai Islam seperti PKS, PPP, PAN dan PKB ada di bawah angka 5 persen. Namun dia menolak memberikan rincian hasil survei yang dilakukan LSI. “Data itu sensitif,” ujarnya.

Untuk capres dari kalangan tokoh Islam, Adjie mengatakan kondisinya tak jauh berbeda. Popularitas yang para tokoh itu juga dibawah 5 persen. Nama-nama yang disurvei diantaranya Hatta Rajasa dengan popularitas 3,2 persen, Suryadharma Ali 2,1 persen, Luthfi Hasan Ishaq 0,8 persen, dan Muhaimin Iskandar 0,3 persen. Mereka diprediksi akan kesulitan untuk maju sebagai capres.

“Pemain utama tetap dari partai nasionalis. Artinya dalam pencapresan, tokoh capres dari nasionalis, partai Islam hanya akan menjadi cawapres,” ujarnya.

Adjie membeberkan beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya popularitas partai dan tokoh Islam. Di antara penyebabnya adalah masih lemahnya pendanaan partai Islam dibanding partai-partai nasionalis. Citra Islam yang makin memburuk seiring dengan maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam juga menjadi salah satu penyebab utama merosotnya popularitas partai dan tokoh Islam.

“Munculnya anarkisme yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok-kelompok Islam tertentu membawa dampak munculnya kecemasan kolektif masyarakat Indonesia pada umumnya. Seperti yang terjadi pada Ahmadiyah, Syiah dan pelanggaran pendirian rumah ibadah, hingga memunculkan kekhawatiran terhadap formalistik Islam,” paparnya.

Selain itu, Adjie menambahkan, saat ini partai nasionalis juga mengakomodasi kepentingan dan agenda kelompok Islam. Seperti PDIP yang memiliki Baitul Muslimin dan PD dengan majelis zikir SBY. “Terlepas dari motifnya yang bersifat substantif ataupun simbolik,” imbuhnya.

Lagi pula, kata Adjie, Islam di Indonesia hanya bersifat kultural, belum terwujud dalam aspirasi politik. “Mayoritas Islam di Indonesia tidak ingin partai dengan aroma Islam menjadi mayoritas,” pungkasnya.
Nur Khafifah – detikNews

Source : detik.com

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply