Empat Penyebab Kemerosotan Partai Islam

VIVAnews – Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Networks menunjukkan partai politik Islam makin terpuruk pada pemilu 2014 mendatang. Peluang tokoh partai Islam untuk maju sebagai calon
presiden sangat kecil, apa penyebabnya?

Peneliti LSI Network, Adjie Alfaraby menjelaskan LSI menemukan ada empat faktor penyebab kenapa tingkat elektabilitas dan popularitas partai dan tokoh Islam semakin menurun dan diprediksi tidak lagi masuk dalam lima besar partai pemenang pemilu 2014.
Faktor pertama adalah makin kentalnya fenomena “Islam Yes partai Islam No”. Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh Nurcholis Majid pada dekade 1960-1970 sebagai gerakan moral.

“Namun saat ini telah menjadi fakta politik. Sebesar 67,8 persen pemilih muslim memilih partai nasionalis,” katanya dalam konferensi pers “Makin Suramnya Partai dan Capres Islam di Pemilu 2014” di Jakarta, Minggu 14 Oktober 2012.

Menurutnya, Islam di Indonesia bersifat kultural dan kesolehan individu namun tidak terwujud dalam aspirasi politik. Mayoritas Islam di Indonesia tidak ingin partai dengan aroma Islam menjadi mayoritas.

Konteksnya saat ini masyarakat Indonesia telah berubah, banyak masyarakat secara individu taat beragama namun tidak merefleksikan sudut pandang kepartaian.

Penyebab kedua adalah faktor pendanaan. Partai politik nasionalis seperti Golkar, PDI-P, Demokrat, Gerindra dan Nasdem lebih siap secara pendanaan dibandingkan partai Islam seperti PKS, PPP, PAN dan PKB.

Pendanaan yang lebih siap ini memungkinkan partai nasionalis lebih siap dalam mendanai aktifitas dan image building partai.

Survei menunjukkan 85,2 persen publik menilai partai Islam kurang modal dibandingkan partai nasionalis. Ia mencontohkan bagaimana Gerindra dan Nasdem dapat menjelma menjadi lima partai besar versi LSI Network berkat iklan-iklan di media televisi nasional.

Faktor ketiga adalah munculnya berbagai tindakan anarkisme yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok-kelompok Islam tertentu yang membawa dampak pada munculnya “kecemasan kolektif” masyarakat
Indonesia pada umumnya.

Selain itu, kecemasan pemberlakuan syariat Islam di beberapa daerah menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa ada agenda syariat Islam jika yang berkuasa adalah partai Islam. “46,1 persen publik percaya merosotnya partai Islam disebabkan anarkisme yang mengatasnamakan Islam di Indonesia,” katanya.

Penyebab terakhir merosotnya partai Islam disebabkan partai nasionalis yang saat ini semakin mengakomodasi kepentingan dan agenda kelompok Islam, terlepas dari motif bersifat substantif ataupun simbolik.

Beberapa partai nasionalis seperti PDI-P yang membentuk Baitul Muslimin dan Majelis Dzikir SBY digunakan untuk merangkul kelompok Islam. Survei menunjukkan 57,8 persen publik percaya bawah partai nasionalis juga mengakomodir kepentingan masyarakat muslim.

Selain itu publik melihat banyak tokoh-tokoh Islam yang diakomodasi oleh partai nasionalis baik ke dalam struktur partai maupun dalam rekrutmen anggota parlemen. (sj)

Source : vivanews.com

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply