Home > Education > Political Marketing > Potensi Partai Terpecah

Jakarta, Kompas – Partai politik Islam sulit menjadi pemenang. Sejak pemilu tahun 1955 sampai 2009, partai Islam tidak bisa meraih suara terbanyak. Penyebabnya antara lain karena potensi kekuatan Islam terpecah dalam banyak partai.

Menurut Direktur Eksekutif The Wahid Institute Rumadi, Selasa (10/5), perpecahan itu terjadi bukan hanya dalam lingkup besar, melainkan juga dari lingkup basis massa lebih kecil. Dari lingkup besar umat Islam, muncul beberapa partai, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Partai Amanat Nasional (PAN).

Dalam skala lebih kecil, dari basis massa Nahdlatul Ulama kemudian muncul PPP, PKB, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, dan belakangan PKB Gus Dur yang lalu memproklamasikan Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia (PKBI). Demikian pula basis massa pendukung Masyumi yang sebagian tergabung dalam Partai Bulan Bintang (PBB) dan sebagian lain dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

”Kanal satu partai dianggap terlalu kecil untuk menampung banyak hasrat politik dari satu basis massa Islam tertentu. Ini memicu perpecahan,” katanya.

Perpecahan juga dilandasi ambisi politik elite kelompok yang ingin memperjuangkan diri dan kelompok kecilnya. Ambisi itu muncul karena partai politik dianggap sebagai satu-satunya sarana paling efektif untuk mendorong mobilitas sosial, politik, dan ekonomi. Lewat partai, seseorang bisa mencapai akses kekuasaan, jabatan, uang, dan kedudukan sosial.

”Semua elite kelompok itu ingin menang dan tidak mau mengalah. Jadi, di balik perpecahan itu, beroperasi persaingan untuk memenuhi kepentingan pragmatis,” kata Rumadi.

Dia memperkirakan, perolehan suara partai tidak akan jauh melampaui pencapaian pada pemilu sebelumnya. Bahkan, ada kemungkinan semakin menurun. ”Ini tren aspirasi politik di Indonesia. Dalam situasi ini, partai-partai berbasis agama akan sulit menang, jika hanya menjual isu agama,” katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Bachtiar Effendy dan pengamat politik Fachry Ali, secara terpisah, di Jakarta, Senin (9/5), mengatakan, perolehan suara partai-partai politik Islam pada tiga pemilu setelah reformasi, yaitu tahun 1999, 2004, dan 2009, cenderung menurun. Ini antara lain disebabkan tiadanya figur kuat yang bisa menjadi teladan spirit keislaman dan kebangsaan yang mengakar di masyarakat luas.

Pada Pemilu 1999, total suara yang diperoleh partai-partai Islam 37,5 persen. Pada Pemilu 2004 naik menjadi 38,35 persen. Namun, turun menjadi 24 persen pada Pemilu 2009.

Menurut Bachtiar Effendy, penurunan itu terjadi akibat partai Islam tidak memiliki figur kuat. Figur itu tidak hanya mencerminkan semangat Islam, kebangsaan, tetapi juga punya akar ke masyarakat luas. Berbeda dengan pemilu tahun 1955, saat suara partai Islam cukup tinggi (sekitar 42 persen) dengan tokoh-tokoh mengakar, seperti Moh Natsir (Masyumi) atau Wahid Hasyim (NU).

Fachry Ali menilai, sebenarnya Muslim sebagai ”pasar” partai Islam tetap banyak dan potensial. Apalagi, gairah keislaman itu kian merebak, bahkan disertai simbol-simbol yang jelas. Namun, pasar ini tidak serta-merta memilih partai Islam jika para pemimpin partai itu dinilai tidak mampu menjadi teladan.

Kaum santri terpecah karena setiap kelompok mengejar ambisi politik. Ketika ada PPP, misalnya, NU membangun PKB, Muhammadiyah mendirikan PAN, dan mantan pendukung Masyumi membuat PBB. PKB juga terpecah-pecah.

”Semua itu tidak memperlihatkan semangat kebersamaan yang bisa diteladani. Para pemimpin partai politik Islam justru memperlihatkan ambisi kekuasaan. Jadi, soalnya bukan Islam atau tidak, tetapi lebih soal ketidakmampuan pemimpin partai memperlihatkan etika yang baik,” katanya.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, ada tiga kelemahan mendasar yang membuat partai Islam atau partai berbasis massa Islam kurang berkembang dan mudah terpecah-pecah. Pertama, tokoh-tokoh partai berbasis Islam cenderung beranggapan pendapat masing-masing yang paling benar.

Kedua, simbol-simbol agama yang dijual partai Islam tidak lagi menjadi daya tarik bagi rakyat. Rakyat lebih butuh karya nyata. Ketiga, manajemen organisasi partai Islam masih lemah karena dijalankan secara tradisional. (IAM/FAJ)

Source : Kompas.com

You may also like
Pemilu Turki, Pengamat: Partai atau Caleg yang Bagi-bagi Sembako dan Politik Uang Tak Dipilih Rakyat
Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, dan Sederet Opsi Penentu Kemenangan Pilpres
Jajak Pendapat Litbang “Kompas” : Pemilih Muda Lebih Kritis Memandang Kinerja Parlemen
Muhaimin Iskandar dan Jejak Lihai Sang Penantang Politik

Leave a Reply