Politikus Tebar Pesona di Media Sosial

TEMPO.CO, Jakarta – Politikus juga memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi, menarik simpati, dan membangun citra sekaligus popularitas dalam momen Ramadan. Ketua Umum Partai Golongan Karya yang juga calon presiden dari partai tersebut, Aburizal Bakrie, sering menyapa calon pemilihnya lewat akun Twitter@aburizalbakrie. Pemilik akun berpengikut 180 ribuan orang ini rajin pula memasang aktivitas berbuka puasa yang dilakukannya di pelbagai tempat.


Salah satunya, Aburizal menceritakan kegiatan berbuka puasa di rumah salah satu calon legislator partainya di daerah pemilihan Jawa Tengah 5, Arianti Dewi. Dia berbuka puasa dengan 250 anak yatim. Ada salah satu anak yatim yang bernama Afrizal Amri, juara satu kompetisi sains tingkat Surakarta 2013. “Dan seperti biasa, anak berprestasi seperti Amri mendapatkan hadiah satu unit laptop, agar ia lebih bersemangat lagi untuk belajar,” demikian tulisan Aburizal lewat @aburizalbakrie, Kamis lalu.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera yang menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, lewat akun @tifsembiring, yang memiliki 600 ribu pengikut, rutin memasang tautan tausiah Ramadan yang dia tulis di antaranews.com. “Yang suka mual-mual pagi hari puasa karena asam lambung, coba ubi jalar merah direbus, ketika sahur dimakan dengan kulit-kulitnya. Resep Prof. Hembing,” begitulah cuitnya, 16 Juli lalu.

Akun milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, @SBYudhoyono, selain memaparkan persiapan mudik oleh pemerintah, bercerita pula mengenai pentingnya bersyukur. “Kebahagiaan itu sederhana, sujud syukurlah 5 menit sehari atas apa yang kita peroleh,” demikianlah cuitnya kepada 2,8 juta pengikutnya. Politikus senior PDIP Pramono Anung malah menceritakan kunjungan ke daerah pemilihan di Tulung Agung. Dia mempromosikan Bambang DH-Said Abdullah, calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Jawa Timur. “Tahun politik, buka puasa pun sambil konsolidasi #TwittPolitisi,” seperti itu cuitnya lewat akun @pramonoanung.

Walau teknologi  informasi sudah maju, cara-cara tradisional dengan memampang wajah di baliho dan spanduk seraya mengucapkan selamat berpuasa juga ditempuh politikus. Spanduk bergambar Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto terlihat mencolok di Jalan Gatot Subroto, di persimpangan Jalan Rasuna Said ke arah Mampang Prapatan.

Spanduk ucapan selamat Ramadan juga terpasang di Jalan Gelora, di belakang Kompleks Parlemen, Senayan. Di pintu masuk, terpasang berbagai macam ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari semua partai politik. Partai Demokrat, misalnya, memasang gambar Ketua Fraksi Nurhayati Ali Assegaf dan Sekretaris Fraksi Saan Mustopa. Spanduk dukungan calon presiden juga ada di lokasi ini. Misalnya, spanduk Barisan Massa yang mendukung Pramono Edhie Wibowo dari Demokrat sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.

Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, Ramadan memang momen yang perlu digunakan politikus untuk mendekati rakyat di semua lini dengan berbagai medium. Komentar di jejaring sosial Twitter, kata dia, menjadi cara baru bagi para politikus Indonesia untuk mendekati publik. “Ini juga untuk menarik simpati publik dan mendongkrak popularitas,” ujar dia saat dihubungi Tempo, kemarin.

Tapi Effendi mengingatkan banyaknya respons positif dari pengikut belum tentu membuktikan keberhasilan di Pemilu 2014. Menurut dia, popularitas selama Ramadan akan percuma bila di bulan-bulan berikutnya para politikus tidak mampu mengalihkan perhatian masyarakat. ”Para politikus harus terus nge-tweet topik-topik yang menarik,” kata dia. SUNDARI | WAYAN AGUS PURNOMO

Source : Tempo.co

Leave a Reply